Dibalik Hati Seorang Ayah

Saya meneteskan air mata saat membaca cerita ini, cerita yang sangat menyentuh hati . Bergetar hati saat membacanya. Silahkan baca sebagai bahan renungan apa yang telah kita perbuat terhadap ayah dan apa yang ayah telah perbuat untuk kita.


"Dibalik Hati Seorang Ayah"

Biasanya, bagi seorang anak yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya, akan sering merasa kangen sekali dengan Ibunya.
Lalu bagaimana dengan Ayah?
Mungkin karena ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,
tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayah-lah yang mengingatkan ibu untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Ibu yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih berumur 4 tahun, Ayah biasanya mengajari kamu naik sepeda. Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu. Kemudian Ibu bilang "Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya". Ibu takut anaknya yang manis terjatuh lalu terluka, Tapi sadarkah kamu? Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu kamu pasti bisa.

Pada saat kamu menangis merengek meminta mainan yang baru, Ibu menatapmu iba, tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas "Boleh, tapi nanti tidak sekarang". Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata "Sudah di bilang! Kamu jangan minum air dingin!". Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja, Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, ayah mengizinkan sambil berkata “Jangan pulang lewat dari jam 9 malam”. Tetapi kamu malah melanggarnya dengan pulang larut malam. Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan perasaan khawatir. Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut-larut. Ketika melihat anak kesayangannya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan Ayah memarahimu. Tahukah kamu, arti kemarahannya itu adalah tanda kesayangannya kepadamu, karena bagi Ayah kamu adalah sesuatu yang sangat-sangat luar biasa berharga.

Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata-mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti. Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Ayah.

Ketika kamu beranjak dewasa, dan kamu harus pergi kuliah dikota lain. Ayah harus melepasmu di bandara, Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu? Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini-itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat. Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik Nak". Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT, kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah. Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain. Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta mainan baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan. Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : "Tidak, Tidak bisa!". Padahal dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan "Iya nak, nanti akan Ayah belikan”. Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana. Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "Anaknya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa dan menjadi seorang sarjana"
Dan akhirnya, Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama kekasihmu, Ayah pun tersenyum bahagia. Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis? Ayah menangis karena ayah sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa. Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata “Semoga Allah memberkahimu dan memberikanmu kebahagian dalam kebaikan.”

Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucumu yang sesekali datang untuk menjenguk. Dengan rambut yang telah dan semakin memutih. Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya. Ayah telah menyelesaikan tugasnya.

Ayah, papa Bapak, atau Abah kita. Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat. Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis. Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu.
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal..

Father’s You are The Best !!! :)

Di liris ulang oleh Badarrudin Nento dari http://kir-31.blogspot.com

Di balik cerita ini kupersembahkan sebuah lirik lagu yang pantas di nyanikan untuk Ayah tercinta

Ebiet G. Ade
Titip Rindu Buat Ayah

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah
Meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia
Ayah, dalam hening sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban