Asap dari Ayah


Nafas dari Ayahku
Kisah ini dalah tentang kecintaanku terhadap Ayahku sendiri, tapi juga ada sisi ketidak sukaanku terhadap beliau. Namun di balik semua itu dia adalah seorang Ayah yang Hebat, “He is My Hero”.
Sang Surya perlahan menyinari dunia, gelap mulai hilang, kicau burung-burung ikut menyambut datangnya Pagi. Aku bangun pagi ini terasa nikmat sekali, kecerahan membangkitkan gairah hidupku, kicau burung menjauhkan ku dari duka lara yang berlalu.


Kecerahan pagi ini juga di rasakan keluargaku yang lain, Ayahku selalu keluar rumah untuk berolahraga pagi. Ibu sibuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga, kakak-kakakku sibuk untuk berangkat bekerja dan kuliah. Ayahku sudah tidak lagi bekerja kantoran, selain karena usianya sudah kepala enam, ia juga tidak lagi banyak menerima proyek yang besar untuk ia kerjakan. Sehari-hari ia hanya sibuk bekerja dirumah menerima proyek kecil-kecil dari rekan-rekannya yang masih mempercayakannya. Ayahku adalah seorang Insinyur dibidang Konstruksi Pertambangan dan Mesin. Sekarang ini ia hanya sibuk bekerja di rumah di depan Laptop, dan di temani berbatang-batang Rokok.

Sejujurnya aku sangat tidak menyukai Rokok, bau asap yang menyengat akan mengganggu orang sekitar yang tidak menghisap rokok. Begitu pula aku, bila di aku berkumpul dengan teman-temanku yang kebanyakan dari mereka merokok, aku mencoba menjaga jarak, agar tidak menjadi perokok pasif. Terkadang juga aku tidak terlalu menjaga jarak agar tidak membuat mereka tersinggung.

Di lingkungan keluargaku, hanya Ayahku yang merokok, ibuku dan saudara-saudaraku tidak ada yang merokok. Ayah pernah bercerita kepadaku kalau ia mulai merokok sejak SMP, karena lingkungan teman-temannya dulu.

Selain aku, ibu dan kakak-kakakku tidak menyukai ayah merokok setiap harinya. Dalam sehari ayah bisa mengkonsumsi sampai 2 bungkus rokok sehari. Ini membuat lingkungan rumahku seperti tidak nyaman dan sehat karena banyak asap, abu rokok. Ayah merokok tidak hanya di teras rumah, tapi juga di dalam tempat ia bekerja. Abu rokok terkadang berserakan di meja kerja ayahku. Inilah yang tidak aku sukai darinya, terkadang aku kasihan melihat ibuku membersihkan abu rokok di meja kerja ayah dan juga yang berada di asbak. Ibuku sudah pernah bilang kepada ayah agar mengurangi konsumsi rokok setiap harinya, namun ayah sepertinya sudah sulit untuk di pisahkan dengan Rokok.

Sampai sekarang ayah masih terus menghisap rokok, namun perlahan-lahan ia mulai mengurangi jumlah batang yang dihisapnya karena ia merasa sudah tidak kuat lagi untuk merokok lebih banyak.