Dilema Cinta dan Prinsip

Dilema Cinta dan Prinsip

Aku adalah aku yang sedang belajar mengerti dan memahami apa itu Cinta. Aku adalah aku yang sedang belajar bagaimana membuat dan mempertahankan sebuah prinsip dalam hidupku. Setiap orang di dunia ini ingin merasakan dan memiliki cinta dan kasih sayang, namun tidak setiap orang di dunia ini ingin membentuk sebuah pegangan dasar dalam hidup atau sebuah prinsip.

Aku sedang menjalani studi di universitas swasta jurusan Teknik Informatika. Hari-hariku penuh dengan tawa, suka, duka, dan warna-warna lain. Bersama keluarga aku cinta, dengan sahabat- aku cinta, dengan dia yang selalu ada di hati aku cinta dan dengan DIA (Tuhan YME) yang Maha memiliki cinta aku merasakan cinta.

Cinta adalah anugrah berupa luapan emosi dari kasih sayang yang di berikan oleh yang maha memiliki cinta (Tuhan YME). Bila seseorang merasakannya akan mendapatkan kegembiraan, kepuasan batin dan rasa lain nya yang sulit di ungkapkan oleh kata-kata. Pada dasarnya setiap orang di dunia ini di berikan rasa cinta dan kasih sayang oleh Tuhan semesta Alam. Karena dengan cinta itu kita bisa berbagi kasih sayang terhadap keluarga, sahabat, dan orang yang akan menjadi pendamping hidup kita kelak.

Prinsip adalah pegangan hidup yang diyakini mampu seseorang mampu membantu dirinya mencapai tujuan hidup yang dia inginkan atau programkan. Prinsip akan hancur jika ada unsur-unsur luar yang tidak sehaluan dengan tujuannya ikut dicampur adukkan, selalunya unsur tersebut berwujud emosi.

Aku sedang mengalami rasa dilema luar biasa antar Cinta dan sebuah Prinsip. Di kampus ku aku menemukan cinta yang mungkin akan menemaniku selamanya. Sesosok wanita yang berkerudung, yang sangat sederhana tapi menawan, yang sangat manis dan bersahaja. Dia adalah teman sekelasku, awalnya kita berteman baik, hari demi hari kita lalui bersama dengan teman dan berlanjut dengan keakraban yang begitu syahdu. Muncul lah rasa itu yang membuat aku penasaran ingin lebih dekat, rindu ketika kita jauh , ya rasa itu adalah cinta. Katar orang “Seseorang bisa merasakan tawa karena cinta, menangis karena cinta, gila karena cinta, dan bersikap aneh karena cinta” dan itulah yang saat ini aku rasakan.

Rasa cinta ini muncul ketika aku benar-benar merasa nyaman bila merasa dia, saat kita tertawa bersama, susah bersama, menangis bersama. Ketika aku baru pertama merasakan ini dengannya aku sangat berharap dia juga merasakan ini, namun hati sesorang siapa yang tahu bila belum di ungkapkan. Hati kecilku berkata bahwa dia juga memiliki rasa yang sama, entah apa yang membuat hatiku berkata seperti itu, mungkin karena hatiku melihat dari mata nya yang indah itu.

Hari-hari tetap berjalan seperti biasa, aku selalu bersama dia di kampus. Namun aku belum juga bisa mengungkap kan rasa ini. Karena ada sesuatu yang mengganjal yaitu sebuah prinsip. Sejak awal sebelum masuk kuliah aku sudah mempunyai keteguhan pengangan hidup yaitu “Aku datang hanya untuk belajar dan aku belajar karena aku sedang menjalani ibadah”. Dengan prinsip itu lah yang saat ini sedang aku pegang dalam keseharianku.

Aku bersyukur dilahirkan dari orang tua yang agama islam nya sempurna yang sejak kecil mendidikku bagaimana menjadi muslim yang baik. Salah satu yang di ajarkan adalah aku dilarang berdekatan yang berlebihan dengan wanita yang buhkan muhrim nya. Orang tuaku melarang aku mendekati zinah, itulah yang membuat aku masih penuh rasa galau dengan cinta yang ku alami sekarang.

Sekita selama sebulan aku memendam rasa ini, akhir nya dengan penuh keyakinan
aku mencoba mengungkap kannya. Lewat obrolan di telfon aku telah mengungkapkannya. Tanggapan dia pun sama, dia juga memiliki rasa yang sama sepertiku, aku sangat merasa senang luar biasa. Setelah mengungkapkannya obrolan kami lanjutkan tentang masalah prinsip diriku yang sedang membuatku dilemma. Dia memberikan ku saran agar kita tidak perlu melakukan pacaran ataupun hubungan seperti remaja-remaja lain nya yang bisa mendekatkan ke perbuatan zinah. Kami berdua memutuskan menjalin sebuah komitmen, ya komitmen kami adalah “Kami saling mencintai namun tetap mengedepankan kuliah dan Pribadi sebagai seorang Muslim”.

Intinya komitmen itu adalah kami saling mencintai namun tidak menjalin sebuah hubungan pacaran, ikatan yang akan menyatukan kita hanyalah sebuah pernikahan suci. Tapi kita berdua masih muda, sama-sama sedang menjalani studi dan fokus meraih masa depan yang cemerlang. Aku pun kini mempunyai dua pegangan hidup yaitu Komitmen aku akan tetap mencintai dia dan Prinsip untuk tetap menjadi mahasiswa dan muslim yang baik.